#1 AllBanner Header

Market Rekap – Inflasi AS Turun, Krisis Selat Hormuz Dorong Emas Lampaui $4.400

#1 AllBanner Top Content

Open this post with:

Aug 12 – Rekap market mengalami berbagai variasi pergerakan di akhirs sesi New York pada perdagangan hari ini. Terdapat dua penggerak “market mover” utama di sepanjang 24 jam terakhir, seperti rilis data makroekonomi Amerika Serikat terkai inflasi konsumen dan memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Para pelaku pasar “dipaksa” mendesain ulang strategi mereka setelah Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Juli dirilis melandai ke angka 3,4% (YoY). sementara itu di saat yang sama, kebuntuan diplomatik di Selat Hormuz membuat pasokan energi dunia berada dalam ketidakpastian yang tinggi.

Kombinasi dari melunaknya prospek pengetatan moneter Federal Reserve dan lonjakan permintaan terhadap aset lindung nilai (safe-haven) menjadi pemicu reli kuat pada komoditas emas dalam beberapa hari terakhir, sekaligus memicu volatilitas tinggi pada sejumlah mata uang utama dunia pada sesi perdagangan New York hari ini.

XAUSD Tembus Level Psikologis $4.400

Di pasar komoditas, emas (XAU/USD) menjadi salah satu instrumen yang memiliki volume perdagangan dan volatilitas cukup tinggi pada hari ini, dengan bergerak kuat di atas level $4.420 per ons. Berdasarkan data perdagangan terbaru, emas spot sempat menyentuh level tertinggi harian di kisaran $4.434 per ons, yang merupakan level terkuatnya dalam sepuluh minggu terakhir.

Pergerkan Harga Emas (XAU/USD) Tercatat Hari Ini

Rentang Harga Intraday $4.375 — $4.434 / ons
Posisi Spot Terakhir $4.420,85 / ons (+0,35%)
Kontra Berjangka (Des) $4.466,00 / ons

Pemicu utama terapresiasinya harga emas adalah rilis data inflasi Juli AS yang keluar tepat sesuai dengan ekspektasi pasar. Dengan inflasi tahunan yang melandai ke 3,4% dan inflasi inti bertahan di 2,5%, kecemasan investor mengenai potensi langkah agresif Federal Reserve di bawah kepemimpinan Kevin Warsh resmi makin mereda. Data tersebut dikombinasikan dengan lemahnya angka Non-Farm Payrolls (NFP) yang dirilis pada pekan sebelumnya, membuat prospek kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC September mendatang turun drastis hingga tersisa 40% saja.

Selain faktor moneter, emas mendapatkan dorongan tambahan dari sektor geopolitik. Ketegangan antara Washington dan Teheran pasca-serangan rudal terhadap kapal tanker di rute maritim vital menyebabkan pelaku pasar institusional terus memindahkan dana mereka ke instrumen yang dianggap aman.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa AS memiliki “kendali penuh” atas Selat Hormuz. Data navigasi pelayaran riil yang dikutip dari reuters menunjukkan arus kapal tetap minim, memaksa harga minyak mentah Brent tertahan tinggi di kisaran $84 hingga $90 per barel. Sifat emas yang kebal terhadap inflasi akibat lonjakan harga energi menjadikannya pilihan utama dalam sesi perdagangan hari ini.

Dolar AS Bertahan di Tengah Volatilitas – Yen Tertekan

Di pasar mata uang, dinamika yang terjadi tergolong unik. Biasanya, data inflasi yang melandai akan merontokkan keperkasaan Dolar AS. Namun hari ini, Indeks Dolar AS (DXY) justru menunjukkan ketangguhan luar biasa dengan bertahan kokoh di sekitar level 99,85 hingga sempat menyentuh 99,87. Mengapa Dolar tidak jatuh? Jawabannya ada pada fungsi ganda USD sebagai mata uang safe-haven universal ketika perang atau gangguan perdagangan global mengancam dunia.

Kekuatan Dolar AS yang tidak terduga ini langsung membuat beberapa mata uang lainnya terlihat lemah, khususnya Jepang Yen. Mata uang matahari terbit ini kembali tak berdaya dan (USDJP) melemah ke kisaran 159,45 per dolar. Intervensi verbal maupun aksi jual USD gabungan yang dilakukan otoritas moneter Jepang pada akhir Juli lalu tampaknya mulai kehilangan momentum karena fundamental ekonomi yang kontras. Selama Bank of Japan (BoJ) tidak mengeksekusi kenaikan suku bunga secara nyata, para spekulan diproyeksikan akan terus melanjutkan posisi short terhadap Yen dengan memanfaatkan strategi carry trade.

Di sisi lain Euro (EUR/USD) tertekan tipis ke level 1.1543 karena lonjakan harga minyak dunia memukul prospek ekonomi zona Eropa yang sangat bergantung pada impor energi. Sementara itu Poundsterling (GBP/USD) bergerak relatif mendatar di kisaran ketat 1.3500 seiring kehati-hatian investor menjelang rilis produk domestik bruto (PDB) kuartal kedua Inggris.

Forecast Pasar ke Depan: Menanti PPI dan Klaim Pengangguran

Narasi perdagangan hari ini menegaskan bahwa pasar saat ini berada dalam posisi seimbang yang rapuh (fragile equilibrium). Di satu sisi, ancaman resesi ekonomi akibat suku bunga tinggi mulai berkurang berkat inflasi yang kian melunak. Di sisi lain, eskalasi militer dan penutupan jalur logistik internasional siap memicu kejutan baru terhadap inflasi yang bisa terjadi kapan saja.

Untuk sesi perdagangan berikutnya, fokus penuh para pelaku pasar akan tertuju pada kalender makroekonomi pada Kamis di sesi perdagangan New York, di mana Amerika Serikat akan merilis data Indeks Harga Produsen (PPI) serta Klaim Pengangguran Mingguan. Jika data produsen menyusul tren penurunan CPI, maka reli emas diprediksi akan semakin sulit tertahan, dan posisi Dolar AS kemungkinan besar akan mulai berkurang di pasar forex.

#1 AllBanner Bottom Content

About the Author

Professor FX

Prof FX adalah situs edukasi forex terkemuka di dunia yang menyediakan berbagai alat dan sumber daya yang dibutuhkan investor untuk...

View all of Professor FX posts →
Open Comments:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

#1 AllBanner Footer Content